28

Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (SPs UMJ) meluluskan dua mahasiswa dari Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Keduanya menjadi doktor ke-52 dan 53 dari SPs UMJ. Sidang terbuka keduanya dipimpin oleh Direktur SPs UMJ Prof. Dr. Masyitoh Chusnan, M.Ag., ini diselenggarakan di Auditorium dr. Syafri Guricci, Senin (11/12/2023).

Baca juga : Sekolah Pascasarjana UMJ Gelar Sidang Terbuka Promosi Doktor ke 48 dan 49

Doktor ke-52 atas nama Rony Edward Utama, dan Doktor ke-53 atas nama Eti Suyanti. Keduanya mengikuti sidang terbuka dengan baik dan memeroleh nilai dengan pujian. Rony Edward Utama melakukan penelitian dengan judul disertasi Kepemimpinan Strategis dalam Pengembangan Pesantren (Studi pada Pesantren Al-Qur’an Nur Medina Tangerang Selatan).

Rony yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMJ ini, berharap hasil disertasinya dapat menjadi model baru terutama bagi pesantren konvensional. Menurutnya pondok pesantren dapat mengambil kesempatan dengan terbitnya UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dan Perpres tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren.

“Itu peluang untuk bisa berkembang bagi pesantren konvensional sehingga keterbatasan dana, sarana dan prasarana bisa dilengkapi dengan hal tersebut. Harapannya pesantren konvensional memiliki sistem informasi terintegrasi,” ungkapnya.

Prof. Dr. Agus Suradika, M.Pd. (Promotor), melantik Eti Suyanti sebagai Doktor bidang Ilmu Manajemen Pendidikan Islam seusai Sidang Terbuka, di Auditorium dr. Syafri Guricci, Senin (11/12/2023),

Sementara itu Eti Suyanti melakukan penelitian dengan judul disertasi Implementasi Hidden Curriculum pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMKN 57 Jakarta. Penelitian itu dilakukan karena melihat angka kriminalitas Provinsi DKI Jakarta yang menempati urutan tertinggi nomor 2. Di antara banyaknya kasus kriminal terjadi di kalangan siswa.

Eti yang saat itu mengabdi sebagai Kepala Sekolah di SMKN 57 Jakarta melihat fenomena itu berkorelasi dengan Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di sekolah. Maka ia terdorong untuk melakukan implementasi kurikulum untuk membentuk karakter atau akhlak siswa.

“Di tempat saya bertugas, saya ingin meneliti hidden curriculum. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti hanya seminggu sekali, tiga jam pelajaran. Waktunya hanya sedikit sementara materinya sangat banyak,” ungkapnya.

Hidden curriculum yang dilakukan dengan cara pembiasaan, pembinaan, keteladanan dan program-program pengembangan ini membuahkan hasil. “Dengan hidden curriculum maka Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di sekolah yang saya teliti itu terdorong pencapaiannya,” katanya.

Lebih lanjut ia berharap hidden curriculum ini dapat diterapkan di sekolah yang mirip dengan SMKN 57 yaitu sekolah yang tidak berbasis agama atau pondok pesantren. Kepala SMKN 63 Jakarta ini mengaku sangat antusias belajar di SPs UMJ. Menurutnya lembaga pendidikan milik Muhammadiyah memiliki lingkungan Islami dan kekeluargaan.

Kesan positif juga datang dari Rony yang mengaku mendapat banyak pengembangan dari dosen-dosen yang bidang keahlian dan keilmuan sangat beragam, serta kegiatan seminar internasional yang rutin digelar. Menurutnya, hal itu pula yang membawa SPs UMJ terakreditasi Unggul.

Menanggapi pelaksanaan sidang terbuka, Direktur SPs UMJ Prof. Dr. Masyitoh mengungkapkan rasa bangganya. “Bagi kami, itu kebanggaan karena sudah bisa meluluskan mahasiswanya. Ini sebagai bukti keberhasilan SPs untuk mengantarkan para doktor. Sebagai lembaga tentu kami berusaha untuk selalu menjaga kualitas,” ungkapnya saat dimintai keterangan seusai sidang terbuka.

Menurutnya SPs UMJ mulai dikenal keberadaan dan diakui kualitasnya. Hal itu ditunjukkan dengan jenjang karier alumni Prodi Doktor MPI yang terus meningkat. Masyitoh menerangkan bahwa alumni SPs UMJ banyak yang dipercaya pada jabatan penting.

Ia berharap SPs UMJ terus meningkatkan kualitas. “Siapa pun nanti pimpinannya, harapannya terus meningkatkan kualitas. Pendahulunya  sudah meletakkan fondasi sesuai dengan kriteria dan standar yang berlaku. Kami selalu berusaha untuk lebih dari standar. Maka ketika penguji ujian tertutup dan terbuka itu artinya kami sangat memerhatikan kualitas,” ungkapnya.

Editor : Budiman