Tag: Hadapi

HADAPI TANTANGAN DI DUNIA PENDIDIKAN, FAKULTAS DHARMA ACARYA UHN SUGRIWA GELAR SEMINAR INTERNASIONAL

DENPASAR, UHN SUGRIWA – Fakultas Dharma Acarya (FDA) UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menyelenggarakan Internasional Seminar on Advances and Research in Education (I-SEARCH) 2023, Selasa (15/8/2023) di hotel Swiss Belresort Watu Jimbar, Sanur. Seminar ini mengangkat tema “Teaching and Teachers: Stay Relevant in the Era of Self-Teaching and Artificial Intelligence”.

Acara ini dibuka oleh Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si.
dengan pidato inspiratif tentang pentingnya mempersiapkan pendidik dan siswa untuk era pembelajaran yang semakin maju. Turut hadir para pejabat terkait serta Ketua panitia, Dr. I Gusti Ngurah Wijaya Mahardika, S.Pd., M.Pd.

Seminar yang berlangsung 9.00-17.00 WITA ini berhasil menyatukan 200 peserta dan penulis dari berbagai institusi yang memiliki minat dalam pengembangan pendidikan dan penelitian. Para peserta datang untuk berkontribusi pada diskusi yang mendalam tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh dunia pendidikan dalam menghadapi era pembelajaran mandiri serta kecerdasan buatan.

Adapun narasumber yang dihadirkan, yakni Prof. Andy Cirocki, Ph.D. dari Universitas York Inggris, Prof. Sarah Prestridge, Ph.D. dari Universitas Griffith Australia, dan Ida Pandita Mpu Jaya Brahmananda (Prof. Dr. Ir. I Gede Pitana, M.Sc.) mewakili Indonesia, membawa perspektif internasional yang beragam terkait dengan perubahan dalam dunia pendidikan. Selaku moderator, Dr. IGA Lokita Purnamika Utami, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Pendidikan Ganesha, memimpin jalannya diskusi dengan baik.

Diskusi mencakup berbagai topik, mulai dari pemanfaatan teknologi dalam pengajaran hingga pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi era kecerdasan buatan. Diskusi yang dijalankan berlangsung dalam suasana interaktif, memungkinkan peserta untuk berpartisipasi aktif dalam pertukaran gagasan dan pandangan.

Kegiatan ditutup Wakil Dekan I FDA, Ferdinandus Nanduq, S.Ag, M.Ag. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua peserta dan pembicara atas kontribusi mereka dalam menjadikan I-SEARCH 2023 menjadi acara yang sukses dan berarti.

I-SEARCH 2023 menjadi bukti nyata dari komitmen Fakultas Dharma Acarya dalam memajukan pendidikan dan penelitian di era yang semakin dinamis dan kompleks. Diharapkan hasil seminar ini akan memberikan wawasan dan inspirasi bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan. (nas/sas)


Pusdok-Humas-Uhnsugriwa
#uhnsugriwa

Media Korea Selatan Hadapi Tantangan karena Akses Digital Semakin Dominan

Media Korea Selatan Hadapi Tantangan karena Akses Digital Semakin Dominan massa di Korea Selatan menghadapi tantangan perubahan karena publik tidak lagi hanya mengakses saluran media konvensional seperti penyiaran, surat kabar dan radio untuk mendapatkan berita. Publik di Korea Selatan juga menggunakan saluran digital yang unik yakni portal berita melalui platform digital.

Adanya perubahan kebiasaan akses publik terhadap media ini diutarakan Prof. Seongcheol Kim dari School of Media and Communication, Korea University kepada Dr. Asep Setiawan, dosen Program Magister Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta dalam wawancara khusus di Seoul, hari Kamis (25/5).

“Masyarakat Korea Selatan banyak yang mengakses portal berita seperti Naver, Google dan Kakao dalam mendapatkan berita. Portal ini merupakan agregrasi berita dari berbagai sumber berita dan ini merupakan salah satu keunikan di Korea,” jelas Prof Seongcheol. Naver adalah portal berita utama berbahasa Korea mirip Google yang berdiri 1999. Selain itu juga terdapat Google berbahasa Korea menjadi portal berita utama disamping Kakao yang berdiri tahun 2010.

Asep Setiawan yang juga anggota Dewan Pers menyoroti masa depan media massa di Korea Selatan dalam kunjungan ke kampus Korea University di Seoul. Hadirnya portal berita digital inilah yang menyebabkan publik tidak lagi banyak memaanfaatkan penyiaran televisi publik. Namun media massa swasta di bidang penyiaran melakukan inovasi lebih aktif dalam programnya dibandingkan media yang didanai publik. Oleh karena itu sebagian masyarakat di Korea Selatan tidak lagi mengandalkan media penyiaran publik meski dananya sudah tersedia dari anggaran pemerintah.

Media Massa di Korsel

Di Korea Selatan terdapat beberapa media penyiaran utama. Korean Broadcasting System (KBS) memulai siaran TV pada tahun 1961. Namun, mereka pertama kali menyiarkan sinyal radio pada tahun 1927. Mereka sekarang menjadi layanan penyiaran layanan publik dan melayani Korea Selatan sebagai sumber berita.

Selain itu terdapat Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) yang merupakan perusahaan penyiaran publik. Didirikan pada tahun 1961, perusahaan ini telah membentuk kerja sama internasional dan kemitraan dengan perusahaan penyiaran di seluruh dunia. MBC memproduksi program-program yang menginformasikan dan menghibur penonton Korea.

Selain KBS dan MBC terdapat pula apa yang disebut Seoul Broadcasting System (SBS). SBS adalah perusahaan jaringan televisi dan radio nasional Korea Selatan yang dimiliki oleh Taeyoung Chaebol. Mereka menyediakan konten yang berkaitan dengan K-drama, olahraga, berita, dan berbagai program.

Dan di Korea juga terdapat EBS adalah singkatan dari Educational Broadcasting System. Ini adalah penyiar publik pendidikan Korea Selatan dan jaringan radio yang mencakup Korea Selatan. Didirikan pada tahun 1980-an dan menjadi perusahaan independen pada tahun 1990.

Sementara di Korea Selatan juga terdapat lima surat kabar utama yakni Chosun Ilbo, Joongang Ilbo, Donga Ilbo, Hankyoreh, dan Kyunghyang Shinmum. Seiring dengan pergeseran dunia ke era digital, banyak dari situs-situs ini telah membuat saluran bahasa Inggris dan halaman media sosial, dan beberapa bahkan memiliki saluran YouTube sendiri. Kantor Berita Yohnap juga hadir di Korea Selatan menjadi sumber berita masyarakat. Mereka mendistribusikan konten ke lebih dari 900 perusahaan di seluruh Korea Selatan dan mendistribusikan konten ke 83 kantor berita di lebih dari 70 negara.

Pendidikan wartawan

Sementara itu wartawan senior Korea Selatan Daesock Seong yang juga Presiden Persatuan Wartawan Korea (Association of Korean Journalists) dalam pertemuan terpisah di Seoul menjelaskan bahwa wartawan mendapatkan pendidikan khusus jurnalistik dari perusahaan dimana mereka bekerja. Di Korea Selatan, lembaga media baik swasta maupun negeri memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kompetensinya. Di Korea, setiap wartawan memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh perusahaan dimana mereka bekerja.

Menurut Daesock Seong, wartawan di Korea Selatan memiliki kebebasan dalam melakukan liputan setelah menempuh perjalanan panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan pers. Sekarang wartawan Korea Selatan mendapatkan dukungan masyarakat dalam menjalankan tugasnya sehingga dapat disebut langka mendapatkan ancaman dan intimidasi dari apparat, politisi atau pihak lainnya.

Menurut Korea Press Foundation, pada tahun 2020, terdapat sekitar 36.000 jurnalis yang secara aktif terlibat dalam organisasi berita di seluruh di seluruh negeri. Mereka ini tersebar di berbagai bentuk media, seperti media cetak, penyiaran, dan digital.

Editor : Tria Patrianti


14